Focus Group Discussion “Praktek Ekonomi Hijau Sektor Pertanian di Tingkat Petani : Kasus di Kabupaten Bogor”

by

in

Para peneliti BRIN melakukan Focus Group Discussion (FGD) Praktek Ekonomi Hijau di tingkat Petani, dengan mengundang para penggerak pertanian organik di Kabupaten Bogor. Penelitian ini di pimpin oleh Dr. Ir, Syahyuti, M.Si, dalam pembukaan kegiatan, pimpinan FGD memberikan gambaran perjalanan pertanian organik yang ada di area Kabupaten Bogor. Ada komunitas Sunda Sirna Wangi yang sudah menjalankan pertanian alamiah, Sedangkan pionir pertanian organik dengan nama pertanian organis sudah ada sejak tahun 80 an, tepatnya tahun 1984, di daerah Cisarua, dengan nama Yayasan Bina Sarana Bakti (Pusat Pengembangan Organis) yang di dirikan oleh Pater Agatho Elsener . Dalam perjalanannya, beberapa peserta beberapa pernah melakukan pelatihan di Yayasan Bina Sarana Bakti. 

Ada beberapa kegelisahan para peserta, dimana sertifikasi organik menjadi syarat mutlak dalam kegiatan pertanian organik. Seperti kenapa padi organik tidak maju, karena terkendala oleh sertifikasi organik dan fenomena alih fungsi lahan serta hasil produksi yang sudah menurun. Saat 2016-2020 petani padi organik belum banyak, melihat hasil produksi yang menurun ada beberapa yang beralih ke komoditas sayur untuk mencari perputaran yang singkat dalam aspek bisnis.

Mengacu kepada program pemerintah Genta Organik 2023, ternyata dalam pelaksanaanya mengurangi unsur kimia 60-70% dengan artian input kimia masih ada. Teman-teman dari Aliansi Organis Indonesia, memberikan penekanan tidak ada istilah semi organik, yang ada organik atau tidak organik. Prof. Subarudin memberikan contoh gambaran Thailand bisa maju pertaniannya karena Raja turun ke lapangan dan hotel-hotel menyerap hasil pertanian. 

Peran lembaga sertifikasi, dalam melakukan penjaminan produk organik sangat vital. Banyak stake holder yang dapat dilibatkan dalam prospek dan perkembangan pertanian organik, seperti komunitas konsumen, penyuluh pertanian, pemerintah kabupaten, propinsi hingga pusat. Ada juga peran mitra pembangunan (kelembagaan non profit),  investor, akademisi serta kelompok tani. 

Komunitas konsumen memliki dampak besar dalam penyerapan produk organik, mengingat harga sayuran organik berbeda dengan sayuran umumnya. Hal ini yang di terapkan Yayasan BIna Sarana Bakti dalam proses pendistribusian produk sayuran organiknya.  Dalam FGD ini didapatkan kesimpulan, ke depan Petani sebagai subject bukan sebagai objek sehingga petani bisa sejahtera. Pemerintah belum terlalu pro-aktif khusus di perkembangan pertanian organik. (ap)

Bagikan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *