KOMPAS, SENIN, 22 MARET 1999
Agatho Elsener, bukan sarjana pertanian, tuan tanah, penyuluh pertanian, bukan pula petani dalam arti menggantungkan hidup dari mengolah tanah. Latar belakang pendidikannya adalah Ilmu Ketuhanan (teologi), tetapi perhatian dan kesibukan sehari-hari sama persis dengan profesi yang berurusan dengan pemuliaan tanah.
Sejak Mei 1984, ia menggarap sawah dan kebun di atas tanah sekitar empat hektar di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Jawa Barat. Hidup kesehariannya tergantung dari kemurahan tanah. Bersama sekitar 30 pekerja, ia mengolah tanah sesuai dengan prinsip-prinsip organik, yakni tanpa pupuk kimia, tanpa pestisida, tanpa zat pengatur tanam
Agatho adalah pemulia tanah, konsep pemuliaannya berbeda dengan petani umumnya, atau konglomerat yang masuk usaha pertanian, bahwa tanah harus di ekploitasi habis-habisan. Agatho tak hanya mengolah, tetapi juga mengkaji secara ilmiah. “Saya punya tujuan meyakinkan orang, bahwa pertanian masa depan adalah pertanian organik yang bebas pupuk kimia dan pestisida buatan pabrik”.
Maksudnya, sekaligus ingin ia temukan hubungan dekat antara alam dan manusia sebagai satu kesatuan, alam, manusia dan binatang sebagai ciptaan. Alam tidak “dimakan” habis-habisan. Untuk menunjang kegiatan penelitian, Agatho merekrut 23 pegawai, 17 di antaranya insinyur pertanian.
Ir. Sudaryanto, salah satu di antaranya boleh dikatakan sebagai tangan kanan Agatho. “Dialah anak muda yang sudah sama yakin dengan saya bahwa pertanian organik adalah pertanian masa depan,” katanya. Komentar Sudaryanto, insinyur pertanian lulusan Universitas Gadjah Mada, “Jarak antara Pater Agatho dan saya amat jauh. Meski saya belajar ilmu pertanian, dalam pengetahuan pertanian saya bukan apa-apanya. Keterlibatan Pater (Bapak) amat intens. Pengetahuan dan obsesinya tentang pertanian organik melebihi lulusan S3″.
Sudaryanto pun tercatat sebagai orang-orang pertama yang lahir bersama Yayasan Bina Sarana Bhakti, lembaga yang memayungi kegiatan Pastor Agatho Elsener OFM Cap. di Cisarua
Setelah ditahbiskan sebagai pastor tahun 1958, Agatho datang ke Indonesia tahun 1960. Bekarya di bidang pelayanan rohani di Sanggau, Kalbar, tahun 1983 memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Mulai tertarik menangani percobaan pertanian organik sejak 70-an, di tengah mulainya kritik terhadap revolusi hijau (green revolution) praksis pertanian yang berorientasi memanfaatkan alam agar menghasilkan produk massal. Agatho mulai mengusahakan lahan di Cisarua sejak Mei 1984.
Termasuk dalam obsesinya, lembaga itu menyelenggarakan penataran-penataran pertanian organik. Kata Agatho, “jumlah peserta penataran dan pengunjung sudah banyak. Mereka kagum, dan setuju. Mereka sepakat, secara higienis hasil usaha pertanian organik lebih sehat daripada yang dihasilkan dengan pupuk kimia dan pestisida. Keberatan orang tetap sama menyangkut cara pemassalan produk.
Kata Agatho, “suatu saat masyarakat akan menerima, apalagi makin banyak panen gagal karena hama, atau makin besar kesadaran hidup sehat.” Kini lembaga sudah memasuki fase ketiga, tiga hektar kebun dipakai sebagai tempat latihan dan eksperimen, tiga lainnya untuk berproduksi dan demontrasi.”

Leave a Reply