Teman-teman jejaring Aliansi Organis Indonesia (AOI), mengajak Markus Wolter (Misereor) untuk wilayah Asia, mengunjungi Bina Sarana Bakti yang berdiri sejak 1984. Dalam kunjungan ini, kami berdiskusi mengenai bagaimana kendala dan juga solusi dalam menjalankan pertanian berkelanjutan khususnya organik. Apri menggambarkan terkait makna organis, dimana setiap organ saling membantu dan mendukung satu sama lain untuk menjadi organisme (makhluk hidup).
Nilai yang diajarkan Pater Agatho, bahwa dalam berbudidaya pertanian, teknik pertanian bukanlah masalah utama, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana orang berprilaku. Sehingga yang dibentuk adalah karakter dan sikap dari petaninya
Khususnya pertanian organik, ada hal lain yang perlu diperhatikan, terkait adanya sertifikasi organik yang dilakukan oleh pihak ke 3 yang terakreditasi KAN. Biaya yang tidak murah tentunya menjadi kendala dalam memasarkan sayuran organik, sehingga pasarnya pun menjadi untuk golongan tertentu dengan kemampuan daya belinya. Bahkan pelaku (aktivis) jejaring organik pun terkadang masih berpikir untuk membeli sayuran organik karena kendala harga yang tinggi.
Sebagai gambaran sayuran yang di produksi di Agatho jika dibandingkan dengan harga lain, tentunya tidak mahal, permasalahan timbul ketika ada pelaku organik yang menawarkan harga rendah. Komponen tertinggi dalam budidaya organik adalah biaya di tenaga kerja, karena mau berapapun kg yang dihasilkan. Petani tetap mendapat bayaran yang sama baik di musim hujan maupun kemarau. Kendala produksi paling utama di kebun tentunya cuaca, ketika berasumsi sekarang sebetulnya musim hujan atau kemarau. Pastinya ini menjadi hal yang sangat sulit terprediksi, dengan adanya hujan, tentu kami siasati dengan memanfaatkan Green House. Ketika kemarau, sayuran yang dihasilkan tidak cantik sempurna karena adanya lubang, kami mencoba memberikan edukasi kepada konsumen terkait situasi yang ada.
Mengernai keadilan harga, kualitas, tentunya tidak bisa kita melakukan edukasi ini kepada Retail. Penekanan kualitas dan adanya penalti jika tidak memenuhi persentase dari target menjadi resiko bagi produsen organik. Ternyata di Jerman pun sama, menurut Wolter, diberlakukan hal yang sama terkait penalti. Bahkan menyarankan kepada kami, kenapa tidak membentuk Community Supported Agriculture (CSA). Mekanisme seperti ini menjamin petani untuk mendapatkan bayaran 1 tahun di depan, sehingga petani tinggal fokus berbudidaya sesuai yang diinginkan konsumen. Secara konsep tentunya bagus, tetapi konsumen jika dibayar di depan biasanya ada hal-hal khusus yang di inginkan oleh konsumen tersebut seperti harga spesial (diskon).
Sukmi, Direktur AOI, menggambarkan ada beberapa jaringan yang sudah menerapkan CSA, sebagai contoh di Lampung. Kegiatan dilanjut dengan observasi secara langsung kebun, diskusi mengenai pertanian organik yang menerapkan sistem Companion Planting. Sistem seperti ini baik karena pada dasarnya tanaman akan saling membantu dalam budidaya di lapangan. Bahkan Wolter, menggambarkan sistem 3 Sisters yang di kembangkan Milpa. Ada 3 crop dalam 1 bedengan, yaitu, Jagung, Legum, Labu. Masing-masing dengan fungsinya, tanaman legum menyediakan nitrogen, tanaman jagung menjadi tegakan/lanjaran untuk rambatan tanaman legum, dan labu menjadi tanaman penutup (cover crop) seperti mulsa hidup.
Banyak sekali yang kami diskusikan sebetulnya, jika teman-teman pembaca masih penasaran silahkan dan jangan sungkan untuk berkunjung ke kebun Agatho untuk bisa mendukung perkembangan pertanian organis sehingga tetap menyediakan sayuran sehat. (ap)

Leave a Reply