International Workshop dengan Judul “Toward a New Food Systems : Agroecological Solidarity in Monsoon Asia yang diketuai oleh Prof. Rie Miyaura dari Tokyo University of Agriculture, memberikan undangan ke perwakilan Indonesia yang diwakili oleh Apri Larastio dari Yayasan Bina Sarana Bakti (Agatho Farm) dan Ronald Shiddiq Wibowo dari PT.Biocert Indonesia. Selain itu ada juga undangan dari beberapa perwakilan dari negara kawasan Monson Asia, diantaranya Bangladesh, Filipina dan Vietnam. Kegiatan ini berlangsung selama periode 27-31 October 2025. Pada hari pertama tiap peserta mempresentasikan perkembangan apa yang ada di setiap negara terkait pertanian organik dan agroekologi, baik berupa studi kasus, perkembangan, kendala dan berikut solusinya.
Sebelum presentasi dari para peserta, Prof. Rie Miyaura memutarkan video yang berjudul “The 10 Elements of Agroecology: Enabling transitions to sustainable agriculture and food systems” sebagai pembukaan. Kegiatan dilanjut dengan presentasi perwakilan dari Bangladesh diwakili oleh 3 orang ( Md. Rashedur Rahman, Md. Khurshed Alam, Md. Abu Bakkar Siddique). Ada hal teknis yang menarik yang dipresentasikan oleh Abu Bakkar, yaitu terkait pemanfaatan kolam Lele, yang berfungsi untuk mengontrol populasi ular. Jadi disela-sela perkebunan pepaya, ada aspek lainnya seperti kolam Lele. Secara ekonomi tentunya, akan mengahasilkan 2 output penghasilan yaitu ikan Lele dan Pepaya. Presentator lainnya mempresentasikan kendala dan juga solusi untuk pertanian organik di Bangladesh, yang dapat di simpulkan, masih dalam perjalanan untuk menjadi organik.
Perwakilan Indonesia, Apri Larastio, mempresentasikan terkait sejarah Agatho Farm, selama dari 1984 hingga saat ini, bagaimana perubahan konsumen organik setelah pandemi. Saat pandemi, kami memberikan seminar online kepada komunitas. Komunitas ini membantu kami sebagai produsen dalam penyediaan Green House, jadi ketika musim hujan produktivitas tetap dapat kontinyu dan bagaimana kami mendistribusikan sayuran kepada para Agen dan Konsumen kami yang berada di area Jabodetabek. Kami pun tetap menjaga kesuburan tanah dengan memanfaatkan kompos, mulsa organik dan juga pupuk hijau. Tantangan musim tanam tentunya sangat dipengaruhi oleh musim hujan (banyaknya penyakit tanaman) dan kemarau (banyaknya hama yang menyerang sayuran hingga berlubang pada bagian daun). Ronald Shiddiq dari PT. Biocert Indonesia, menjadi satu-satu nya perwakilan lembaga sertifikasi yang hadir di International Symposium ini. Bagaimana standar yang menjadi acuan kepada para produsen yang akan melakukan sertifikasi organik, khususnya di Indonesia.
Presentasi berikutnya di sampaikan oleh Mr Chien, yang merupakan mantan pegawai pertanian selama 6 tahun, memutuskan resign, untuk menjadi entrepreneur dan saat ini CEO dari Bac Tom yang memiliki 20 outlet dan 200 petani mitra, bahkan dalam symposium ini, dia mengajak petaninya yang sukses dalam mengembangkan komoditi pepaya untuk berbagi pengalamannya di dunia pertanian organik, yang menerapkan cover crop tanaman gulma alami. Pertanian organik mereka menerapkan PGS yang teregister dari IFOAM.
Perwakilan dari Filipina, yang diwakili oleh Gary Ben Suazo dari MASIPAG, mempresentasikan bagaimana dampak dari Revolusi Hijau yang terjadi di sana, terutama pada komoditi beras emas, yang merupakan hasil Genetic Modified Organism (GMO) dari perusahaan besar. Mereka melakukan advokasi dan bekerja sama dengan para kelompok tani dan peneliti-peneliti. Hal ini menjadi menarik, suatu organisasi yang disebut MASIPAG, berjuang bersama-sama untuk memperjuangkan kesehatan bagi masyarakat Filipina. Fakta menarik lainnya, ternyata Filipina mengimpor beras, karena disana ada kendala ektrem yaitu adanya angin topan dari laut Pasifik. Perwakilan lainnya yaitu Mabi David (Good Food Community), yang melibatkan secara langsung konsumennya untuk datang ke kebun dan berpraktik memasak langsung bersama-sama konsumen lainnya. Konsep PGS (Partisipatory Guarantee Systems), dengan penerapan Community Support Agriculture (CSA) menjadi hal yang sangat inspiratif, sehingga terbentuk sistem kepercayaan (trust) antara petani (produsen) dan pelanggan (konsumen)
Kegiatan ditutup dari presentasi Prof. Keiko Yoshino, yang menjelaskan sejarah pertanian organik di Jepang, dengan gambaran beberapa Pertanian seperti Pertanian Organik Ouzumi yang bergerak dengan jaringan Japan Organic Agriculture Association sejak 1971 telah berpraktik organik dan menjadi yang tertua saat ini di jepang, lalu ada Mr. Saito dengan konsep Natural Farming. Presentasi mengenai Konsep Teikei di Jepang yang memiliki 10 Prinsip dalam aplikasinya, saat ini yang diaplikasikan oleh JOSO COOP. to be continue…(ap)

Leave a Reply